NGAWI | Trensatu – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai seorang petani asal Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, yang disebut mampu mencapai produktivitas 9 ton padi per hektare dan panen hingga tiga kali dalam setahun, menjadi perhatian publik.
Dalam Sidang Bersama MPR-DPR-DPD RI, Jumat (14/8/2026), Prabowo memperkenalkan Joko Purnomo, Ketua Kelompok Tani dari Desa Purwosari, Kabupaten Ngawi.
Dalam keterangannya, Prabowo menyebut Joko telah sekitar 20 tahun menjadi petani dan merasakan manfaat sejumlah program pemerintah di sektor pertanian.
“Pak Joko ini ketua kelompok tani dari Desa Purwosari, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Pak Joko telah 20 tahun bertani. Dengan air, teknologi, dan pupuk yang telah disediakan oleh pemerintah,” ujar Prabowo.
Presiden juga menyampaikan bahwa Joko kini mampu melakukan panen tiga kali dalam setahun dengan produktivitas mencapai 9 ton padi per hektare.
“Dengan air, teknologi, dan pupuk yang telah disediakan oleh pemerintah, dia sekarang mampu panen tiga kali setahun dengan produktivitas sampai 9 ton padi per hektar,” kata Prabowo.
Pernyataan tersebut kemudian dilansir oleh akun Facebook IKI Ngawi. Namun, bukannya mendapat pujian sepenuhnya, unggahan tersebut justru memunculkan beragam tanggapan dari warganet, khususnya yang mengaku memahami kondisi petani di Kabupaten Ngawi.
Dalam kolom komentar unggahan IKI Ngawi yang dilihat Trensatu, sejumlah warganet menyampaikan tanggapan bernada kritis dan mempertanyakan kondisi pertanian yang mereka rasakan.
Salah satu akun, Dayang Sumbi, menuliskan pengalaman mengenai hasil panen dan kondisi pertanian yang menurutnya berbeda dengan gambaran keberhasilan yang disampaikan dalam pernyataan tersebut.
Dalam komentarnya, ia menyebut pengalaman bertani pada 2013 ketika lahan sekitar 14 are dapat menghasilkan sekitar 23 bagor gabah. Sementara kondisi yang ia sebut saat ini, lahan dengan luas yang sama disebut hanya menghasilkan sekitar enam bagor.
Komentar lain juga mempertanyakan kondisi petani secara umum.
“Bayan, Camat, opo Lurah ki aku wong Ngawi tik ra kober healing,” tulis akun Warsidi Warsidi.
Sementara akun Eko Ngawi menulis:
“SAK NGERTI KU PETANI NGAWI, PODO ROTO ROTO SAMBAT…… IKI KOK NYELENEH…. OPI TENAN IKI YO…..”
Komentar lain juga muncul dari warganet yang menyoroti kebijakan pertanian dan kondisi masyarakat.
Salah satu komentar bahkan menuliskan:
“Seng ngrasakne mung 1 seng ajur 1000.”
Beragam komentar tersebut menunjukkan adanya perbedaan persepsi di tengah masyarakat mengenai kondisi pertanian di Kabupaten Ngawi.
Pernyataan Presiden mengenai produktivitas 9 ton per hektare, kemampuan panen tiga kali dalam setahun, serta manfaat program pemerintah kepada petani Ngawi menjadi hal yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut.
Trensatu tidak bermaksud mempertentangkan pernyataan Presiden dengan pengalaman petani lainnya. Namun, sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial dan kerja jurnalistik, informasi tersebut perlu diuji melalui data dan fakta di lapangan.
Trensatu akan menelusuri sejumlah hal, antara lain:
- Benarkah produktivitas Joko Purnomo mencapai 9 ton padi per hektare?
- Berapa luas lahan yang dikelola dan bagaimana hasil panennya setiap musim?
- Apakah benar dapat melakukan panen tiga kali dalam setahun secara konsisten?
- Bagaimana kondisi ketersediaan air dan irigasi di lahan tersebut?
- Apakah pupuk yang disebut pemerintah telah tersedia benar-benar diterima petani sesuai kebutuhan?
- Bagaimana kondisi harga pupuk yang disebut mengalami penurunan?
- Sejauh mana petani di Kabupaten Ngawi merasakan manfaat program pemerintah?
- Apakah kondisi yang dialami Joko Purnomo juga dirasakan mayoritas petani Ngawi?
- Bagaimana perbandingan produktivitas petani Ngawi secara umum?
Pernyataan mengenai keberhasilan seorang petani tentu dapat menjadi contoh positif apabila didukung data yang dapat diverifikasi.
Namun, keberhasilan satu petani belum tentu secara otomatis menggambarkan kondisi seluruh petani di suatu daerah.
Karena itu, Trensatu akan melakukan penelusuran lebih lanjut melalui konfirmasi kepada Joko Purnomo, kelompok tani, penyuluh pertanian, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi, serta petani lainnya.
Penelusuran juga akan diarahkan pada data produksi, luas lahan, hasil panen, kebutuhan pupuk, harga pupuk, ketersediaan air, hingga program bantuan pemerintah yang diterima.
Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai apakah klaim produktivitas 9 ton per hektare dan panen tiga kali setahun tersebut merupakan kondisi yang benar-benar terjadi dan dapat diverifikasi, serta sejauh mana program pemerintah memberikan dampak terhadap petani di Kabupaten Ngawi.
Trensatu akan terus menelusuri dan menguji informasi tersebut berdasarkan data, dokumen, serta fakta lapangan.







